Minggu, 23 Agustus 2020

Pembahasan pengajian rutin malam kamisan, tentang 4 akhlak seorang mukmin


PERSELISIHAN dan pertengkaran di antara kaum Muslim, bisa jadi hal yang yang tak bisa terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Pertengkaran terjadi adalah akibat tidak menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk. Selama ini, kita merasa diri sudah beriman, paling shaleh, dan merasa sudah menjalankan sunnah-Nya. Sementara ia tidak menyadari dirinya telah merendahkan martabatnya terhadap sesama muslim, selalu berprangsaka tidak baik dan menggunjing keburukannya.

"Tidak beriman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya seperti dia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari-Muslim dari Anas ra).

Sangat tidak dibenarkan, seorang Muslim memberi kesaksian palsu mengenai perilaku saudaranya yang tidak terbukti kebenarannya. Berikut empat golongan Mukmin terhadap saudaranya.

1. Menutup Aib Saudaranya

Sesama saudara muslim bukanlah rival. Namun Islam mengajarkan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Ketika persaingan itu terjadi, acapkali kita menebar cela dan cacat saudaranya, kerap berprasangka, hingga terbetik keinginan untuk menghancurkan kredibelitasnya. Sesungguhnya itu perbuatan zalim.

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS. al-Hujuraat: 11-12).

Sebagai Muslim, seharusnya kita menutup segala aibnya di masa lalu.“Barangsiapa menghilangkan kesusahan seorang muslim, niscaya Allah akan menghilangkan satu kesusahannya di hari Kiamat. Barangsiapa menutup aib seorang muslim, niscaya Allah akan menutup aibnya di Hari Kiamat. Allah selalu menolong seorang hamba selama dia menolong saudaranya.” (HR. Muslim).

Orang yang menutup aib saudaranya akan dijamin masuk surge, seperti sabda Rasulullah saw: “Tidaklah seseorang melihat aib saudaranya lalu dia menutupinya, kecuali dia akan masuk surga.” (HR. Thabrani).

2. Hak dan Kewajiban Muslim

Sungguh sangat disayangkan, jika sesama muslim tidak menegur saudaranya ketika terlibat perselisihan. Diantara mereka merasa gengsi jika menegur lebih dulu. Padahal ukuran seorang yang bertakwa adalah ketika ia menjadi orang yang pertama kali menyapa dan memberi salam kepada saudaranya. Bukan saling berpaling.

Rasulullah saw mengingatkan, “Tidak halal bagi seorang muslim tidak bertegur sapa dengan saudaranya lebih dari tiga hari tiga malam, yaitu mereka bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Tetapi, orang yang paling baik adalah yang paling dahulu memberi salam.” (HR. Muslim).

Setelah mengucapkan salam, maka iringilah dengan kebajikan yang lain. Kata Rasulullah Saw: “Hak muslim terhadap sesamanya ada enam, Rasulullah ditanya,”Apa saja itu, ya Rasulullah? Beliau menjaw, “Apabila kamu bertemu dengannya ucapkanlah salam, apabila dia mengundangmu penuhilah undangan tersebut, apabila dia meminta nasihat, berikanlah, apabila dia bersin lalu mengucapkan hamdalah jawablah, apabila dia sakit jenguklah, dan apabila dia meninggal dunia, antarkanlah.” (HR. Muslim).

Bahkan, disunnahkan agar sesama muslim saling berjabat tangan yang disertai dengan senyuman yang tulus. “Tiada dua orang muslim yang saling berjumpa lalu berjabat tangan, melainkan diampuni dosa keduanya sebelum mereka berpisah.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh Albani).
Hak dan kewajiban seorang muslim kepada saudaranya, adalah membantu saudaranya yang kesusahan, bukan malah mendoakan sesuatu yang buruk menimpanya. Sifat hasud dan dengki itu tidak pantas disandang oleh seorang muslim. Apalagi berniat dan sampai menumpahkan darah saudaranya.

Dari Ibnu Umar ra, Rasulullah Saw bersabda: “Seorang muslim adalah saudara bagi seorang muslim lainya, tidak boleh menganiayanya dan menyerahkannya (kepada musuh). Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa membebaskan kesukaran seorang muslim, Allah akan membebaskan darinya satu kesukaran dari antara kesukaran-kesukaran pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi (cacat)nya akan ditutup aibnya kelak di hari kiamat.” (HR. Bukhari-Muslim).

Allah Swt menegaskan, “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar perbuatan sangat keji itu (berita bohong) tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, mereka mendapat azab yang pedih di dunia da di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS An Nur: 19).

Dari Abu Hurairah juga ia berkata, Rasulullah saw bersabda:”Janganlah saling hasud menghasud, saling benci membenci dan saling berpaling, serta janganlah seseorang diantara kamu menjual atas penjualan kawannya, tapi jadilah kamu sekalian bersaudara, hai hamba Allah. Seorang muslim itu saduara bagi muslim lainnya, tidak boleh menzaliminya, dan tidak boleh membiarkannya dalam keadaan terhina dan tidak boleh merendahkannya. Taqwa itu disini (sambil menunjuk kea rah dadanya sebanyak tiga kali). Cukup dinilai bertindak jahat, siapa yang merendahkan kawan muslimnya yang lain. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram (terhormat) darahnya, hartanya dan kehormatannya.” (HR. Muslim).

3. Mendamaikan Perselisihan

Perselisihan yang terjadi dalam pergaulan, persahabatan dan pergerakan tidak boleh dibiarkan terus berlangsung. Apabila terjadi perselisihan, maka harus ada pihak yang mau menengahi atau mendamaikan secara adil, sehingga kedua belah pihak yang berselisih dan bertikai dapat kembali berdampingan.

Terjadinya konflik dan berbagai pertentangan hingga terjadi permusuhan diantara sesama kaum muslimin adalah karena diantara mereka tidak memiliki keikhlasan, atau keikhlasannya telah hilang dari dirinya.

Maka, ketika kita melihat perselisihan diantara kaum muslimin, Rasulullah saw mengajari umatnya untuk mendamaikan, bukan malah mengadu domba hingga menjadikan perselisihan semakin hebat.“Takutlah kamu kepada Allah dan damaikanlah persengketaan diantara kamu itu.” (QS. al-anfal:1)

Dan dari Ummu Kultsum bin ‘Uqbah bin Abu Mu’aith, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: “Tidak termasuk berdusta orang yang mendamaikan manusia, yaitu dia mencari kebaikan atau berkata baik.” (HR. Bukhari-Muslim)

Ingatlah firman Allah Swt, ketika kaum muslimin berselisih paham dengan sesama muslim:“Dan apabila ada dua golongan orang mukmin berperang, maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari keduanya berbuat zalim terhadap (golongan) yang lain, maka perangilah (golongan) yang berbuat zalim itu, sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil, dan berlakulah adil. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (QS. Al-Hujuraat: 9).

4. Memaafkan Saudaranya

Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang, ia akan mendapatkan pemeliharaan Allah, dan akan dipenuhi dengan rahmat-Nya, dan Allah akan senantiasa memasukkannya ke dalam lingkungan hamba-hamba yang mendapat cinta-Nya, yaitu: seseorang yang selalu bersyukur ketika Allah memberi nikmat, seseorang yang mampu (meluapkan amarahnya) tetapi dia memberi maaf atas kesalahan orang, dan seseorang yang apabila marah, dia menghentikan amarahnya.” (HR. Hakim).

Memaafkan kesalahan saudaranya adalah salah satu dari akhlak yang utama. Seperti halnya pesan Nabi Muhammad Saw kepada sahabatnya.“Ya Uqbah, maukah kuberitahukan tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Yaitu, menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskan hubungan denganmu, memberi orang yang menahan pemberiannya kepadamu, dan memaafkan orang yang pernah menganiayamu.” (HR. Hakim).

Bahkan dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman: “Wahai anak Adam, ingatlah kepada-Ku ketika kamu marah, Aku akan mengingatmu jika Aku sedang murka (pada hari Akhir).”
Rasulullah Saw lagi-lagi mengingatkan: “Orang kuat bukanlah yang dapat mengalahkan musuh, namun orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari).


(Andi wijaya)

Sabtu, 22 Agustus 2020

KAMI PONPES BAROYA AL-MUSRI, MENGUCAPKAN SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1 MUHARRAM 1442 HIJRIYAH



Subang santrikreatifbaroyaalmusri.blogspot.com - 1 Muharram 1442 H jatuh pada hari Kamis 20 Agustus 2020.
Bulan Muharram tidak lepas dari sejarah dan peristiwa besar Islam.
Sejarah 1 Muharram Tahun Baru Islam ditandai dengan peristiwa besar yakni peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Perhitungan Tahun Baru Islam bermula di masa Umar bin Khattab R.a. tepatnya 6 tahun pasca-wafatnya Nabi Muhammad SAW.

Umar bin Khatab bermusyawarah dengan para sahabat dan singkat kata, mereka pun berijma untuk menjadikan momentum dimana terjadi peristiwa hijrah Nabi sebagai awal mulai perhitungan tahun dalam Islam.
Sebelum mengenal kalender Islam atau kalender Hijriah, masyarakat Arab mengenal tahun dengan menamainya menggunakan peristiwa penting yang terjadi di tahun tersebut.
Misalnya kelahiran Nabi Muhammad SAW, dikenal dengan Tahun Gajah, karena pada tahun tersebut terjadi penyerangan terhadap Kabah oleh pasukan yang menggunakan gajah sebagai kendaraan perangnya.
Peristiwa Penting
Tahun Baru Islam diperingati setiap tanggal 1 Muharram oleh kaum muslimin, nama Muharram secara bahasa dapat diartikan sebagai bulan yang diharamkan.
Yaitu bulan yang didalamnya orang-orang Arab diharamkan dilarang (diharamkan) melakukan peperangan.

Orang Arab zaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan, sedangkan pada bulan lain misalnya shafar, diperbolehkan melakukan peperangan.



Di bulan Muharram, terdapat beberapa peristiwa penting, pertama hari Asyura yang jatuh pada 10 Muharram yang diyakini hari kebebasan Musa dari kejaran Fira’un, dan kita disunahkan berpuasa pada tanggal itu.
Yang kedua adalah peristiwa gugurnya Husein bin Ali, cucu Rasulullah di tanah Karbala
Banyak peristiwa penting yang menggembirakan juga pernah terjadi di bulan Muharram di antaranya :

*•Terbelahnya laut merah saat Nabi Musa mau menyeberang sehingga Musa dan kaumnya yang setia selamat dari kejaran Raja Fir’aun.*

Selain itu beberapa peristiwa penting laijnnya juga terjadi, seperti dikutip dari laman Nu.online yakni :

*•Nabi Adam 'alaihissalam bertobat kepada Allah dari dosa-dosanya dan tobat tersebut diterima oleh-Nya.*

*•Berlabuhnya kapal Nabi Nuh di bukit Zuhdi dengan selamat, setelah dunia dilanda banjir yang menghanyutkan dan membinasakan.*

*•Selamatnya Nabi Ibrahim 'alaihissalam dari siksa Namrud, berupa api yang membakar.*

*•Nabi Yusuf 'alaihissalam dibebaskan dari penjara Mesir karena terkena fitnah.*

*•Nabi Yunus 'alaihissalam selamat, keluar dari perut ikan hiu.*

*•Nabi Ayyub 'alaihissalam disembuhkan Allah dari penyakitnya yang menjijikkan.*

Perang Khaibar yang terjadi di tahun ketujuh hijriyah juga terjadi di bulan Muharram.
Perang ini menandai penumpasan total kaum Yahudi yang suka bikin kekacauan dan perpecahan di kota Madinah.

Amalan Sunnah
Dari uraian di atas nyatalah bagi kita, bahwa hari Asyura dan bulan Muharram merupakan hari dan bulan bersejarah yang diagungkan dari masa ke masa.

Adapun terkait amalan di bulan Muharram, dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa amalan yang dicontohkan Rasulullah SAW.

*MEMPERBANYAK PUASA.*

Bulan Muharram adalah satu di antara bulan haram selain bulan Rajab, Dzulqaidah, dan Zulhijah, amalan sholih yang diperintahkan saat itu adalah memperbanyak berpuasa.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu." [at Taubah/9:36]

Dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Puasa Asyura 10 Muharram

Dari sekian hari di bulan Muharram, yang lebih afdhol adalah puasa hari ‘Asyura, yaitu pada 10 Muharram.
Puasa Asyura 10 Muharram memiliki keutamaan yang tinggi karena dapat menghapus dosa setahun lalu.
Abu Qotadah Al Anshoriy berkata,
“Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arafah? Beliau menjawab, ”Puasa Arafah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” Beliau juga ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyura? Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.”(HR. Muslim no. 1162).
Sayyidah Aisyah, istri Nabi shallallahu 'alaihi wassalam menyatakan bahwa hari Asyura adalah hari orang-orang Quraisy berpuasa di masa Jahiliyah, Rasulullah juga ikut mengerjakannya. Setelah Nabi berhijrah ke Madinah beliau terus mengerjakan puasa itu dan memerintahkan para sahabat agar berpuasa juga. Setelah diwajibkan puasa dalam bulan Ramadhan, Nabi s.a.w. menetapkan:
“Barangsiapa yang menghendaki berpuasa Asyura puasalah dan siapa yang tidak suka boleh meninggalkannya." (HR. Bukhari, No: 1489; Muslim, No: 1987)
Puasa Tasu'a 9 Muharram
Dalam rangka menyelisihi Yahudi, kita diperintahkan berpuasa pada hari sebelumnya, yaitu berpuasa pada hari kesembilan (tasu’a).
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa, ada sahabat yang berkata: "Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani."
Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.”
Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)
Seperti dikutip dari Muslim.or.id, Imam Asy Syafi’i dan ulama Syafi’iyyah, Imam Ahmad, Ishaq dan selainnya mengatakan bahwa dianjurkan (disunnahkan) berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh sekaligus; karena Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam berpuasa pada hari kesepuluh dan berniat (berkeinginan) berpuasa juga pada hari kesembilan. (Syarh Muslim, 8: 12-13)
Dengan demikian, kita melakukan puasa Asyura dengan menambah satu hari sebelumnya yaitu hari Tasu’a, atau tanggal 9 di bulan Muharram.

*MEMPERBANYAK SEDEKAH*


Terima kasih untuk bapak dan ibu wali murid yg ikut berpartisipasi dalam memperingati acara tahun baru islam 1 Muharram 1442 H

Jumat, 21 Agustus 2020

Kisah Wanita Cantik yang Membuat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani Pingsan



Ini kisah tentang penyebab Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengalami pingsan. Sebagai sosok ulama besar pada jamannya, sosok Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dikenal sangat kharismatik. Wibawanya luar biasa, semua ulama mengakuinya. Gelarnya adalah Sulthonul Auliya, rajanya para wali. Karomahnya sangat banyak, sangat membekas di kalangan para santrinya, bahkan sampai sekarang masih terus dikenang di semua penduduk muslim dunia.

Kisah ini terjadi ketika Syekh Abdul Qadir Al-Jailani didatangi oleh seorang wanita yang mengadukan masalahnya.

“Aku heran pada suamiku, padahal aku ini adalah wanita yang memiliki paras yang sangat cantik. Tapi kenapa suamiku masih melirik wanita lain? kalau anda tidak percaya, akan aku buka hijab wajahku!”

Wanita itu mengadukan nasibnya yang sangat tragis. Takdir kecantikan yang dimilikinya ternyata bukanlah kepastian takdir bahagia, karena sang suami ternyata malah menduakannya. Datang kepada Syekh Abdul Qadir Al-Jailani untuk mendapatkan solusi terbaik dalam hidupnya dan wanita berparas cantik itu sangat yakin dengan tujuannya menghadap Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Tapi apa yang terjadi?

Ketika wanita berparas cantik itu mengadukan nasibnya, seketika itu juga malah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani pingsan. Wanta cantik itu dan para santri seketika juga kaget, apa yang terjadi dengan diri beliau.

Tidak lama kemudian, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sadar dari pingsannya.

“Ya Syekh, kenapa anda tiba-tiba pingsan?” tanya seorang santri kepada guru tercintanya.

“Aku kaget (terkejut) dengan pernyataan wanita yang datang kepadaku. Dia berkata, aku adalah wanita yang cantik tapi kenapa suamiku masih melirik wanita lain. Seketika itu aku teringat, kalau wanita cantik saja tidak mau diduakan.
Bagaimana dengan Allah Dzat Yang Maha Indah dari segalanya.”

Para santri terkaget-kaget dan takjub dengan jawaban Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Betapa dalamnya pemaknaan beliau terhadap makhluq Allah. Semua yang terjadi selalu dimaknai Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sebagai momen mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata'ala.




(Andi wijaya)

Selasa, 18 Agustus 2020

Cinta dalam Diam, 5 Hal ini Akan Membuatmu Merasa Lebih Kuat


Jatuh cinta merupakan hal yang paling sering membuat kita kebingungan, salah tingkah, berbunga-bunga namun kadang juga menguras air mata. Rasa cinta yang kita miliki untuk seseorang yang istimewa di hidup kita memang tak bisa disalahkan, meski kadang menyakitkan.

Seperti menyimpan rasa cinta diam-diam yang terkadang kita alami, dimana kita tidak bisa memilih untuk mencintainya namun hati kita bersikeras bahwa dialah orang yang sanggup membuat jantung kita berdegup kencang. Tak jarang, cinta dalam diam berakhir rasa kecewa karena ternyata si dia sudah ada yang punya.

Tidak semua orang mampu atau mau mengungkapkan rasa cintanya, dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Bagi kamu yang memilih untuk mencintainya dalam diam, berikut lima hal yang akan menjadikanmu lebih bersemangat dan kuat.

1. Yakin bahwa Tuhan telah mengatur segalanya, termasuk jodoh


Jangan khawatir, semua akan indah pada waktunya.

Mungkin kata-kata tersebut memang benar adanya. Karena cinta bukan hanya tentang kita dan orang yang kita cintai, melainkan juga tentang campur tangan Tuhan. Sekeras apapun mencoba, kalau ternyata dia bukan jodoh kita maka tidak akan bersatu. Demikian pula, semakin kita mencoba untuk menjauh jika ternyata dia lah yang Tuhan gariskan untuk melengkapi hidup kita dia akan tetap menjadi milikmu.

2. Berusaha terus memantaskan diri

Daripada menangis tidak jelas dan mengurung diri dari pergaulan sosial, alangkah lebih baik jika kita memperbaiki diri sendiri. Mengintrospeksi segala kekurangan yang kita miliki untuk kita benahi sedikit demi sedikit. Belajarlah untuk memantaskan diri karena jodoh tidak lain merupakan cerminan diri kita sendiri.

3. Tidak ambil pusing meskipun dia tidak mengetahui perasaanmu


Tergesa-gesa mengungkapkan perasaan kita pada orang yang kita cintai ialah hal yang kurang bijak. Kenapa? Jika tindakan tersebut tidak dilakukan dengan pertimbangan yang matang, maka kamu harus siap dengan beberapa konsekuensi yang timbul. Jika si dia menerima cintamu, mungkin tidak akan ada permasalahan yang berarti.

Namun, jika dia tidak menerima perasaanmu dan justru malah menghindari dan menjaga jarak darimu, di situlah kesabaran mu akan semakin diuji. Rasa ketidaknyamanan, perasaan bersalah, bingung bagaimana harus menyikapinya merupakan segelintir dari kekhawatiran yang menggelayut di benakmu. 


4. Menyibukkan diri dengan kegiatan yang positif


Dengan melakukan kegiatan-kegiatan positif seperti melukis akan membuat dirimu lebih fokus dan tidak memikirkan tentang si dia. Berusahalah untuk memberi kesempatan pada dirimu sendiri untuk berkembang, menghasilkan karya-karya daripada nangis sesenggukan di kamar.

5. Menghabiskan banyak waktu bersama sahabat dan keluarga

Sebelum kamu menemukan pasangan hidupmu, perbanyaklah waktumu untuk sekedar berkumpul dan bersenda gurau bersama sahabat dan keluarga dekat. Karena mereka lah orang-orang yang setia pada saat kamu kesusahan. Meski hanya sebatas pergi traveling atau makan bareng itu akan membuatmu lebih bahagia karena kamu yakin selalu ada orang-orang yang mencintaimu sebelum kamu meninggalkan mereka setelah kamu hidup bersama pasanganmu.

Nah, itu dia beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan agar cinta dalam diam itu tidak membuat kita bermasalah justru malah membuat kita semakin dewasa.


Penulis: Andi Wijaya


Mengetahui hukum dan Arti Aqiqah


Santrikreatifbaroyaalmusri.blogspot.com
(Andi wijaya, M Nugraha A Y, Darul Muttaqin)

Senin, 17 Agustus 2020

CARA SIMPLE MENGAKIKAHKAN ANAK DENGAN MEWAKILKAN ATAU MENYERAHKAN KE PONDOK PESANTREN



Subang -  17/08/2020 salah seorang warga mengAkikahkan 1 ekor kambing ke Ponpes BAROYA AL-MUSRI yg bertempat di kp. Limaratus desa sindangsari kec kasomalang Kabupaten Subang,

Aqiqah merupakan salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Begitu pentingnya ibadah ini sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda :“Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya.” (HR. Abu Dawud). 

Maksud dari “tergadaikan” adalah jika anaknya diaqiqahi akan terlepas dari gangguan jin sewaktu kecilnya, dihindarkan dari mara bahaya. Ada juga yang mengatakan agar orang tua mendapat syafaat dari anaknya kelak.

Definisi Aqiqah
Menurut bahasa, Aqiqah artinya memotong. Pada dasarnya adalah rambut yang terdapat pada kepala bayi ketika bayi tersebut keluar dari rahim ibunya. Rambut itu dinamakan aqiqah.

Adapun secara istilah aqiqah ialah hewan yang disembelih karena bayi yang dilahirkan. Hewan sembelihan itu dinamakan dengan Aqiqah karena hewan tersebut disembelih pada hari mencukur rambut bayi.


Hukum Melaksanakan Aqiqah
Aqiqah merupakan ibadah sunnah yang dianjurkan. Oleh karena itu seorang ayah hendaklah berusaha untuk mengerjakannya. Imam Ahmad pernah berkata tatkala ditanya oleh putranya, Shalih Bin Ahmad tentang seseorang yang tidak memiliki harta untuk melaksanakan aqiqah. Bolehkan ia berhutang demi melaksanakan tepat pada waktunya atau menunda pelaksanaannya hingga mendapatkan kelonggaran. Maka beliau berkata, “Pertimbanganku yang paling berat adalah sebuah hadits yang aku diriwayatkan oleh Samrah : “Seorang bayi tergadaikan dengan aqiqahnya.” Aku lebih senang jika ia berhutang daripada menunda pelaksanaannya, semoga Allah memudahkan pembayaran hutangnya, karena ia telah berusaha menghidupkan sunnah Rasulullah dan mengikuti apa yang beliau bawa.

Aqiqah Setelah Dewasa
Orang tua boleh melaksanakan aqiqah untuk anaknya walaupun mereka sudah baligh. Hal itu dikarenakan aqiqah merupakan tanggung jawab orang tua dan tidak ada batasan kapan akhir pelaksanaannya. Adapun hadits Rasulullah yang menyatakan bahwa : “Beliau menyembelihkan hewan aqiqah untuk Hasan dan Husain pada hari ketujuh dan memberi nama keduanya. ” Adalah menunjukkan waktu yang paling utama, bukan pembatasan waktu pelaksanaannya.



(Andi wijaya)

Kamis, 13 Agustus 2020

Jadwal sholat fardu 5 Waktu



Terjemah Sullam Taufiq di laman ini membahas hukum fiqih berkaitan dengan bersuci, shalat dan waktu shalat lima waktu serta kewajiban setiap penguasa dan orang tua untuk memerintahkan dan memaksa rakyat dan anaknya untuk melaksanakan shalat secara teratur.

Nama kitab: Terjemah Sullamut Taufiq ila Mahabbatillah alat Tahqiq
Penulis: Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i (1191-1272 HB/-1777 M)
Penerjemah: A. Fatih Syuhud
Bidang studi: Aqidah, Tasawuf dan Fiqih

Yang Wajib bagi Muslim Mukalaf

Wajib bagi muslim mukalaf (baligh dan berakal) untuk melaksanakan seluruh perintah Allah dan harus melaksanakannya sesuai perintahNya seperti melakukan sesuai rukun dan syaratnya dan menjauhi perkara yang membatalkan. Dan wajib memerintahkan orang tidak melaksanakan kewajiban atau mengamalkan tapi tidak sesuai caranya. Wajib memaksakan apabila mampu kalau tidak maka wajib mengingkari dengan hati apabila tidak mampu memaksa. Ini selemah-lemahnya iman yakni paling sedikitnya kewajiban manusia apabila lemah. Wajib meninggalkan keharaman dan melarang pelaku haram secara paksa apabila mampu. Apabila tidak mampu maka wajib ingkar dengan hati dan menjauh dari tempat maksiat. Perkara haram adalah perkara yang pelakunya diancam oleh Allah dengan siksa dan menjanjikan pahala bagi yang meninggalkannya (kebalikan dari wajib).

Bab Bersuci dan Shalat

Fasal Waktu Shalat Wajib

Termasuk kewajiban adalah lima shalat sehari semalam. 

Zhuhur: waktunya apabila matahari condong yakni condong dari tengah langit ke arah barat sampai bayangan benda sama dengan bendanya selain bayangan istiwa (tengah). 
Ashar: waktunya setelah habisnya zhuhur sampai terbenamnya matahari. 

Maghrib: waktunya dari setelah terbenamnya matahari sampai tenggelamnya syafaq marah.Isya': waktunya dari setelah habisnya waktu maghrib sampai terbitnya fajar shodiq. Subuh: waktunya dari setelah habisnya waktu isya' sampai terbitnya matahari.

Kelima shalat fardhu ini wajib dilakukan pada waktunya oleh setiap muslim yang baligh, berakal sehat, dan suci. Haram mendahulukan shalat dari waktunya atau mengakhirkan dari waktunya tanpa udzur. Apabila muncul perkara baru yang mencegah seperti haid setelah lewat dari awal waktu yang cukup tanpa bersuci bagi yang selamat dari seumpama beser dan perkara yang cukup bagi seumpama sakit beser, maka wajib mengqadhanya. Atau hilang pencegahnya sementara waktunya masih tersisa untuk takbirotul ihram maka shalat wajib dilakukan. Begitu juga wajib shalat yang sebelumnya apabila dijamak bersamanya apabila selamat dari pencega itu memanjang sampai waktu yang cukup untuk itu. 

Fasal: Yang Wajib bagi Orang Tua dan Penguasa

Wajib kifayah bagi wali (orang tua atau yang lain) anak kecil yang tamyiz untuk memerintahkan mereka shalat dan mengajarkan hukum-hukumnya setelah tujuh tahun (qomariyah / hijriyah). Dan memukul mereka apabila meninggalkan shalat setelah usia 10 tahun sebagaimana puasa apabila mampu. Wajib bagi wali untuk mengajarkan anak-anak tentang akidah dan hukum menurut kemampuan si anak dan mengajarkan mereka apa yang wajib setelah baligh dan perkara yang haram dan sunnahnya perkara seperti siwak.

Wajib bagi penguasa yakni Khalifah dan orang yang di bawahnya membunuh orang yang tidak shalat walaupun satu shalat fardhu karena malas setelah diperingati dengan syarat-syaratnya apabila tidak bertaubat (tetap tidak shalat). Hukumnya, dia muslim.

Wajib bagi muslim menyuruh keluarganya yakni istri, anak dan mahramnya untuk shalat dan memaksa mereka melakukannya apabila mereka melanggar. Wajib mengajarkan rukun-rukun shalat, syarat-syarat dan yang membatalkan shalat. Begitu juga setiap orang yang mampu dari yang lain.

(Andi wijaya)
Santri Kreatif BAROYA AL-MUSRI

8 SIFAT WANITA TERBAIK BERIKUT INI